Tuesday, 18 February 2014

Bukan Fatamorgana


               


 
            Aku bingung dengan nya pagi ini. Ia seakan acuh dan tak mempedulikan aku. Apa yang terjadi dengan istriku, pikirku dalam hati. Entah kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga ia merubah sikap terhadapku. Tadi pagi saja ia masuk kekamar mandi dengan sesuatu yang ada di tangan kanannya, meskipun ia berusaha menyembunyikannya dari penglihatanku, tapi setidaknya aku tau ada sesuatu di dalam genggamannya. Ya Allah, maafkan hamba jika khilaf menjaga amanahmu ini. Maafkan jika aku telah berbuat salah kepada istri.

            Sepulang dari mengajar, perutku pun terasa lapar. Kulihat hidangan untuk makan siang sudah tersedia di dalam sebuah tudung saji. Rupanya ia masih sempat menyediakan semuanya untukku. Syukurlah. Kalau saja tidak, pasti aku pergi kerumah bunda untuk ikut makan siang disana. Tapi bukankah itu akan memperlihatkan indikasi ketidak harmonisan jika sampai aku melakukan hal itu. ah, sudahlah yang terpenting semuanya masih seperti kemarin, yang beda hanyalah sikap istriku kepadaku hari ini. Aku berusaha membuang jauh-jauh pikiran-pikiran yang negatif tentang istriku hari ini. Apapun yang terjadi, aku hanyalah seorang suami yang mencoba dan berusaha menjadi suami yang terbaik untuknya. Aku mencintai istriku seperti aku menjaga harga diriku yang tak pernah kuinginkan di permainkan oleh siapapun juga. Dan walau bagaimanapun juga ia(istriku) tetap dia yang kukenal dulu.
*****
            Aku dan dia adalah sepasang kekasih pada saat masih sama-sama menyelesaikan kuliah S1 kami di kampus IKIP Budi Utomo Malang. Walau saat itu kami tidak dalam satu jurusan, tapi itulah cara Tuhan mempertemukan kami. Aku mengenalnya tidak lama setelah kami baru saja sama-sama memasuki masa perkuliahan semester empat saat itu. saat itu dikampus mengadakan turnamen intra kampus. Yang kemudian dinamai “Rektor Cup”. Kebetulan saat itu ia masuk dan ikut lomba debat berbahasa inggris. Ya, secara dia adalah mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris. Sedang aku masuk di jurusan Pendidikan kesehatan jasmani dan rekreasi. Aku sebenarnya tidak terlalu jago dalam hal permainan olahraga semisal bola Voli atau lainnya. Tapi untuk meramaikan acara kampus tahun itu, aku masuk bergabung tim Futsal di kelasku.

            Dan perhelatan turnamen pun bergulir. Meskipun cuaca saat itu berawan. Acara pembukaannya berlangsung ramai. Di hari kedua, kelasku pun turun lapangan menghadapi tim lainnya. Tim kami bermain di pertandingan kedua. Sekitar jam 17.00 an gitu. Ya ada waktu buat mempersiapkan mental pikirku. Sebagai bentuk pemanasan mental, aku berjalan dengan kostum futsal dibadanku di hadapan anak-anak yang aku tak tau dari mana jurusan nya, setelah baju yang aku kenakan saat kuliah tadi aku lepas dan ku masukkan kedalam tas kuliahku. Tapi tetap saja ada rasa grogi sedikit J. Aku berjalan menuju sebuah kedai minuman, kubeli satu botol air mineral untuk lebih menenangkan diriku. Sebelum aku kembali kumpul dengan teman setim, kusempatkan untuk kekamar kecil terlebih dahulu. Saat kubuka pintu kamar itu, tiba-tiba seorang perempuan menubrukku dari dalam. Botol minumanku tertumpah membasahi pakaian dan kertas ditangannya.
“Sorry,, aku benar-benar tidak sengaja, aku tidak tau kalau ada orang di dalam” ujarku meminta maaf.
            “sekali lagi ma,,!” belum sempat kuselesaikan kalimatku, ia pun langsung angkat bicara.
“ Aduh mas, kok jadi begini sih. Masa iya aku harus pulang kembali kerumah untuk ganti pakaian. Mana sebentar lagi debatnya akan di mulai lagi. Makanya kalau mau masuk ketuk dulu pintunya. Jangan asal masuk aja. Mata dimana sih mata itu?” umpatnya kepadaku
            “ iya iya, aku tau. Sorry.” Jawabku
            “ gimana nih, masa aku harus ikut debat dengan pakaian basah kayak gini?”. Tambahnya
“ emh, , gini aja. Aku punya baju kemeja di tas ku, kalo mau aku akan pinjami sebagai ganti atas kesalahanku. Gimana mau coba nggak?” t
“ya udah deh, aku coba dulu. Tapi kamu nggak apa-apakan kalo aku pake dulu, besok-besok deh aku kembaliin”.
“iyalah, gak apa-apa kok. Pake aja. Lagian sebentar lagi kelasku bertanding main futsal melawan kelas lain”. Imbuhku
“ oh, iya emh, nama kamu siapa?, aku Asnan”. Tambahku memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan kanan.
            “ Indah, Indah AlBaqtiyar”. Jawabnya dan menjabat tanganku.
            “Namanya keren, emh seperti kearab-araban”. Pujiku sambil tersenyum kecil
            “Nan, kamu dipanggil Irwan”. Suara panggilan untukku.
            “Ya udah, aku pergi dulu yah. Ini Bajunya”. Aku pamit padanya

            Tak lama kemudian kami pun bermain sore itu. semuanya menjadi terasa enjoy saat dilapangan tidak seperti yang kupikir sebelum masuk kesini, pikirku dalam hati. Kami tampak kewalahan menghadapi lawan sore itu. dan hasilnya kami kalah dengan skor telak. 4-1. Ya sudahlah, selalu ada yang kalah di dalam sebuah pertandingan.
            Sesampainya di rumah. Aku hampir lupa kalau baju ku tadi aku pinjamkan kepada seorang wanita yang barusan juga aku kenal namanya. Indah J. Namun ada yang ketinggalan di saku bajuku tadi. Selembar uang dua puluh ribuan dan Kartu tanda Mahasiswa(KTM)ku. Aduh, bahaya ini kalau misalnya sampai hilang atau tercecer dan Indah tak melihatnya. Ya semoga saja tidak terjadi. Tapi hatiku tetap mengkhawatirkan itu. saking gelisahnya aku membuka Laptop dan menyalakan modem, siapa tau saja aku bisa menemukan akun Facebooknya ataupun Twitternya. Biasalah zaman sekarang hampir semua orang punya kedua akun tersebut. Kuketik word “Baqtiyar” dan hasilnya  no result. Ya sudahlah, mungkin aku saja yang terlalu khawatir.
*****

            Besoknya dikampus, masih ramai oleh anak-anak. Hari itu aku gak ada kelas. Aku ke kampus hanya untuk menyerahkan tugas kepada Agung ketua kelas kami. Sambil ikut melihat-lihat kegiatan di kampus. Ditambah ngopi di kantin kebanggaan anak-anak walau bangunannya cukup seadanya. Kupesan se gelas Kopi bubuk instan untuk menemani duduk disitu. Baru saja beberapa kuteguk gelas yang masih berasap itu, aku dikagetkan oleh seseorang. Rina ternyata. Pundakku jadi sasaran tinjunya.
            “lagi ngapain loe Mblo(jomblo)”. Sapanya
“ nungguin Agung, buat nyerahin tugas minggu kemarin. Kamu sendiri ngapain dikampus, kan lagi gak ada kelas?”. Tanyaku
“ biasalah mejeng, siapa tau dapat kenalan baru”.pungkasnya

Tiba-tiba saja lewat dua orang cewek dengan rambut agak panjang, hitam dan cukup lebat. Favorit ku rambut seperti ini J. Sekilas ia menoleh kearah tempat aku duduk. Dan ternyata ia adalah Indah dan temannya. Spontan aku berdiri dan menghampiri mereka.
            “hai, apa kabar? Emh,, ada kuliah yah?”. Basa-basiku padanya
            “ baik, kamu gimana kabarnya?. Oh iya, bajumu yang kemarin, aku kira kamu gak kan ada di kampus, lagian dirumah mungkin masih belum kering jadi gak aku bawa. Gak apa kan?”. Pungkasnya
Matanya langsung bertatapan dengan temannya itu, aku pun ikut-ikutan salah tingkah. Mungkin dikiranya kami berdua pacaran oleh temannya itu. mana mungkin orang yang baru kenal sudah berani pinjam-pinjaman baju. Suasan demikian mengundang Si Rina si banyak cincong ikutan dalam percakapan kami.
            “kalian pacaran yah?”. Tanyanya setengah ngeledek.
Ku lihat raut wajah Indah yang terlihat memerah padam. Mungkin dia merasa malu. Tapi sebenarnya akupun jadi malu sama dia. ada-ada saja si Rina, merusak suasana saja.

“ya udah aku kekelas dulu yah, takut terlambat. Emh, minta nomer hapemu  donk, biar bisa phone kamu untuk ngembaliin baju mu yang kemarin itu.” ucap Indah
            Akupun mendiktekan nomer handphoneku satu demi satu untuk ia simpan di ponselnya. Lalu ia pun berlalu melangkah masuk kekelasnya. Si Rina semakin menjadi-jadi mengolokku. Sampai pada saat Agung datang dan akupun menyerahkan tugas kuliah itu. Malamnya, aku dan Indah mulai kontak-kontakan via message di handphone.
Mat malam teman, aku Indah. Makasih yah, pinjaman bajunya kemarin. Emh, kapan mau ngambil bajunya. Nih udah selesai aku rapikan.” isi pesan dari Indah.
Tanganku pun mulai bergerak untuk ngetik balas smsnya. Ku tulis saja;
            “sama-sama ndah. Gimana debatnya kemarin, sukses gak?”.
            hmm, kalah sama kakak tingkat L.” Balasnya
            “gak apa-apa, anggap aja pelajaran untuk lebih belajar lagi kedepan”.
            “iya, makasih sugestinya. Oh iya gimana hasil kemarin, win or lose?”. Balasnya lagi
            “kami juga kalah. J.”balasku

Sampai akhirnya kami berdua malah cerita panjang banget, sampai ngomongin keluargalah. Dan tak lupa pula kutanyakan KTM ku yang ketinggalan di Saku depan kemejaku. Dan aku pun mulai merasa betah untuk berlama-lama chat via sms dengannya. Bahkan jika ia mau sampai subuh nanti. Ah, pikiranku mulai salah arah nih. Pekikku dalam hati. Sebelum ia pamit untuk beristirahat, ia sempat membuat janji denganku untuk menyerahkan baju ku itu. dan aku pun menyetujuinya.
*****

            Malam itu adalah malam minggu, indah mengingatkanku janji yang kemarin sejak sore tadi. Katanya sih mumpung ia ada waktu. Ya udah aku anggap saja kesempatan terakhir, dan tak boleh disia-siakan jika dikasih kesempatan oleh seseorang. Karena jika ia, bisa-bisa kita akan menyesal seumur hidup. J. Indah mempercayakanku untuk menentukan lokasi atau tempat untuk kami berdua. Dan kupilih di Andromeda saja, tidak terlalu jauh dari tempat ia tinggal. Sebuah cafébox yang cukuplah untuk anak-anak sekarang. Kami berdua duduk paling dekat tembok sebelah depan yang terbuat dari hampir semua bahan kaca. Jadi nampak diluar orang yang lewat. Kebetulan arah kursinya menghadap kearah luar. Ya cukup romantislh untuk sepasang kekasih. Tapi aku dan Indah masih bukan sepasang kekasih saat itu. ku pesan “ice milkshake chocolate float” dua pors dan “Fried potatoes” satu pors. Satu untukku dan satu lagi untuknya. Sambil menunggu pesanan datang kami pun mulai mengoceh berdua. Sampai saat pesanan kami datang, ia masih saja banyak mengoceh. Dari ocehannya aku menangkap bahwa ternyata dia anaknya asik diajak ngobrol, nyambung(alasan menyukai kebanyakan anak-anak sekarang J).
            Akupun semakin banyak bertanya dan mengintrogasinya dengan beberapa pertanyan tentang dunia kebahasaan yang sesuai dengan studynya.  Dari situ pula ku ketahui bahwa ia juga pintar dan cerdas. Benar-benar gadis yang hebat. Tiba-tiba saja aku ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang dia. ia tak terlalu cantik ataupun manis, tapi sudah cukup membuatku terdiam saat iya menatapku agak lama. Apa iya aku grogi yah.
            Aku pun lalu membawanya kedalam obrolan seputar pacaran. Dari beberapa idenya tentang pacaran, dapat kuketahui bahwa iya belum punya pacar sampai saat itu. beberapa saat setelah kutanyai mengenai siapa pacarnya, kami berdua terdiam sejenak. Ia sendiri mengakui bahwa iya tak punya pacar sampai hari itu. jawabannya seakan menyuruhku untuk lebih agresif lagi dan mencoba menawarkan hati. Aku teringat sebuah penggalan kalimat yang ada di dalam sebuah film. Yang intinya adalah “jika sebuah kesempatan datang, jangan sia-siakan moment itu, karena setelahnya tak kan ada lagi kesempatan yang sama.”
            Aku sedikit tak berani. Tapi aku harus mencobanya. Lelaki sejati akan selalu berani mengambil resiko untuk sebuah tujuan dan niatan yang baik. Lalu aku mulai menulis kata didalam hatiku dan kusampaikan melalui bibirku.
            “ emh, aku juga sama dengan kamu. Masih belum memiliki pacar sampai saat ini. Aku gak tau kenapa, padahal aku sudah mencobanya beberapa kali tapi tetap saja belum berhasil. Jikalau aku mencobanya lagi kepadamu, apakah hasilnya akan tetap sama dengan usahaku yang kemarin-kemarin?” paparku dengan berusaha menyembunyikan raut wajahku yang tak aku tau seperti apa bentuknya kala itu.
            Tak ada jawaban darinya. Aku mulai risau sendiri. Aku hampir saja salah tingkah seandainya, aku tak pintar menguasai hatiku.
“ ya mungkin saja kejadian kemarin adalah cara yang maha kuasa mempertemukanku dengan cintaku, atau mungkin saja cara Tuhan untuk membuat tidak berhenti berusaha mendapatkan cinta dari seorang wanita yang mungkin saja adalah yang tepat untuk menerima cintaku”. Tambahku lagi
“yeh,, ada yang mulai puitis nih malam. Tau gak aku paling takut dekat dengan orang puitis?”.Ujarnya
            “ kok takut, emang dia ada setannya kah?”. Tanyaku bercanda
“ ya takut aja, hanyut terbawa untaian kata-katanya, aku kan gak bisa berenang”. Jawabnya menimpali candaku
“ ono-ono wae sampean Indah, berteman sama orang puitis ada baik juga kale. Bisa menghibur kita saat sedih, atau setidaknya bisa membantu membuatkan puisi saat sedang jatuh cinta”. Kataku disertai tawa.

            Suasananya semakin membuatku berani dan nekat lagi mengatakan cinta. Dan ia tetap saja menimpalinya dengan canda. Tak terasa sudah mau jam sepuluh malam. Ia pun minta untuk aku antar pulang. Sebuah motor Vespa berwarna abu-abu membawa kami meninggalkan Andromeda. Sepanjang perjalanan ia masih saja bercanda. Aku hanya menimpalinya sekali-kali.
“iya yah, mungkin karena aku hanya punya Vespa buntut ini, hingga gak ada yang mau sama aku yah Ndah. Baru kamu loh yang berhasil aku bonceng dengan barang abu-abu ini. Itupun aku gak tau terpaksa atau tidak”. Aku menimpali candanya
            “ mungkin belum saat kali As”. Jawabnya.
Suasana kembali hening, tak ada lagi ocehannya. Aku mematikan mesin kendaraan berhargaku didepan sebuah rumah berwarna putih kekuningan. Dan ia pun beranjak dari jok Vespaku.
“makasih yah untuk malam ini, udah menemaniku dan mau mendengarkan kicauan tadi”.
“ sama-sama Indah, aku senang malah. Bisa bermalam minggu sama cewek secerdas kamu”. Jawabku
“ oh iyah nih baju nya”. Iya menyerahkan sebuah bungkusan yang berisikan bajuku.
Dan ia pun masuk kedalam rumahnya. Selepas itu, Si Abu-abu kembali merongrong menambah kebisingan kota Malang malam itu. aku merasa ada sesuatu yang tak selesai malam itu. yah, aku tak mendapati jawaban cintaku dari Indah. Sudahlah memang sudah takdir seperti ini. Apa susahnya sih menjadi bujangan.
Jam 23:14, hapeku memekik. Entah sms dari siapa malam seperti ini. Mungkin dari Wardi, yang mau minjam uang lagi buat bayar kost-kostan nya atau Dika yang biasa ngajak taruhan bola. Aku sendiri hampir tertidur saat itu. kulihat dari Indah.
emh,, tawaran yang tadi, masih belum hanguskan?”. itu isi pesannya.
“ edisi spesial buat kamu, garansinya seumur hidup”. Balasku dengan cepat
“ syukurlah, apa kamu yakin dengan aku? Aku orangnya gak asik loh.”
“trus kalo gak asik, kenapa aku mesti menyukai saat kamub ngomong panjang lebar dan tinggi tadi. I love U Indah”.
“ ya udah mulai besok aku siap jadi pacar kamu”. Jawabnya singkat
“trus malam ini, belum tah?”
“malam ini adalah waktuku mempersiapkan diri dan hatiku untukmu sayank”.
“mulai malam ini kenapa sih sayank J?”

Tak ada lagi balasan darinya. Cukup membuatku penasaran dan menunggu sampai beberapa menit balasan darinya.
Besoknya aku dan dia memulai sebuah cerita indah yang berhasil kami abadikan sampai saat ini. Ya saat ini aku dan ini tengah menjalani masa yang hampir setahun masa pernikahan kami yang berlangsung cukup sederhana. Dan hari ini aku dan Indah duduk berdua didepan sebuah meja berbentuk persegi panjang untuk menyantap hidangan makan siang. Duduk ala pacaran waktu masih sama-sama kuliah dulu. Tapi hari ini cukup berbeda. Sejak tadi pagi iay belim mengeluarkan sepatah kata pun kepadaku. Entah salahku apa, aku sendiri tidak tau.
Jika dulu kami biasa makan sambil bercerita, bercanda dan tertawa, kali ini kami makan dengan tanpa sepatah kata pun. Mungkin ada baiknya aku tanyakan apa yang terjadi padanya. Lalu aku pun mencoba mengubah suasana dengan memanggilnya sama seperti aku memanggilnya saat pacaran dulu.
“cantik!”. Sapaku
Jika dulu iya sering bilang “gak dengar”, kali ini tak ada respon sedikitpun. senyum pun tidak sama sekali.dia benar-benar marah mungkin kepadaku.
“sayang, kamu kenapa sih?. Hari ini kok sangat berbeda dari yang kemarin. Aku salah ya sama kamu. Katakanlah yank, biar aku bisa jelasin”. Pintahku
Ia tetap memilih berdiam dan membungkam bibirnya. Sebenarnya aku paling gak suka didiamin seperti itu. tapi yang kuhadapi ada seorang wanita juga istri aku. Aku tak mungkin berlaku kasar hanya karena hal seperti ini, lagian aku belum tau kejelasan penyebabnya. Sampai ia menyelesaikan makan siangnya, ia tetap memilih diam. Dan bahkan saat iya beranjak meninggalkan tempat duduknya. Hanya selembar kertas putih yang tertinggal dari tempat ia makan tadi. Itupun mungkin karena ia lupa mengambilnya. Kontan saja aku raih kertas itu.
Aku positif hamil sayank, tadi pagi aku melakukan tes urine di kamar mandi dan hasilnya sangat membuatku bahagia. Maaf jika dari tadi pagi sampai siang ini aku diam dan cuek sama kamu. Tapi itu hanyalah caraku untuk memberi sayank kejutan yang membahagiakan ini. I Love U suamiku”
itu isi tulisan dikertas itu. ubun-ubunku seperti baru saja disiram air embun di kala pagi hari. Sungguh bahagia rasanya. Terima kasih ya ALLAH. Sejenak aku melakukan sujud syukur kepada ALLAH dengan disaksikan oleh Indah yang tengah berdiri di depan pintu kamar tidur. Selepas itu aku langsung memeluknya seperti sepasang kekasih yang bari dipertemukan.
“makasih sayank, kamu sungguh membuatku bahagia. Semoga tuhan memanjangkan waktu kebersamaan kita”. Ucapku terbata.
Tiba-tiba ia menarik lenganku dan berbisik. “yank, aku punya hadiah buat kamu”.
Pintu kamar tidur iya tutup, lalu menarikku hingga kami berdua terjadi diatas sebuah kasur yang sudah tidak empuk lagi. Dan kami pun melakukan ibadah kepada Allah. Ibadah bagi mereka yang telah di Halalkan oleh ikatan yang disenangi oleh Allah.


                                                                                    Malang, 29 Desember, 2013

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.