Sunday, 3 February 2013

Kekasih Ranking Satu Di Dunia


Tanggal 1 April 2013
Siang ini, aku masih saja mengiris hati sendiri dengan beberapa lelehan titik air mata. Air mata sesal ku selama ini. Kupandangi gambaran wajah seorang muslimah dengan jilbab berwarna hijau tua tengah membalut kepala dan mahkotanya itu. Wajah seorang muslimah yang menurutku adalah solehah. Dan matanya pun demikian tajam membalas tatapanku yang terlinangi air mataku sendiri. Dan lelehannya akan semakin deras kala ku ingat-ingat lagi masa yang dulu terlewatkan bersamanya. 
Aku tau aku tidak bersamanya lagi setelah tiga bulan yang lalu aku mengakhiri ceritaku bersamanya. Namun hal itulah yang menjadi penyayat hatiku saat ini,penyayat yang paling menyedihkan bagiku seorang Syarif. detik itulah yang kini semakin menikamkan luka lebih dalam lagi di jiwaku. Belati sesalku pun menambah perihnya goresan dihatiku yang kini kelabu, nanar dan membeku karena keanehanku sendiri. Keanehan yang dulu membunuh cintaku kepada Anisa yang saat ini ku pandangi gambaran wajah pualamnya di selembar poto yang ada di tanganku kananku saat ini. Keanehan yang tiba-tiba saja merenggut cintaku dan melenyapkannya dari Anisa. Dan aku tidak pernah tau sebab keanehan itu terjadi dan bergejolak menggelegar di ruang hatiku tiga bulan yang lalu. Tepatnya hari jumat, tanggal 1februari 2013. 
 
Tiga bulan yang telah lalu itu adalah masa yang mungkin belum bisa termaafkan oleh Anisa kepadaku. Tiga bulan lalu yang sangat kejam dariku. Tiga bulan lalu yang menjadi penyayat dan pemeras air mata pedih penuh sesal ku sejak ini. Dan seandainya saja Anisa disini saat ini juga ku ingin bersimpuh bagai seorang hamba memohon kepada junjungannya. Kuingin tau, apakah ada maafnya untukku. Untukku sang pembual dan pemghianat dalam kehidupan cintanya. Dan aku menyadari aku telah salah. Oh,, Anisa,,,!!! Maafkanlah aku. Maafkan aku untuk tiga bulan yang lalu. 

Tiga bulan yang lalu, aku tiba-tiba saja dihampiri oleh hidayah yang sangat aneh untuk pemuda seusiaku. Bagaimana tidak aneh, tiba-tiba saja aku tak ingin mengenal dan merasakan cinta. Aku tak ingin dicintai dan mencintai oleh siapapun juga. Itulah kenyataan yang kualami saat itu. Seakan aku mulai merasa bosan dengan semua tentang cinta. Bahkan hakikat cintapun aku tak pernah mengerti. Aku tidak pula lelah dan sakit karena cinta. Yang ada aku merasa baik-baik saja dengan Anisa, mantan kekasihku tiga bulan yang kemarin. Aku bahagia dengan kebersamaanku denganku. Tapi aku tiba-tiba saja merasa ingin jauh dari nya, ingin berpisah dengannya begitu saja. Bukan karena aku membencinya ataupun tidak menyukainya. Tetapi cinta yang ada di dalam hatiku menghilang begitu saja di dalam sanubariku. Seakan ada yang menelannya atau menguburnya. Jujur aku sendiri bingung dengan hati dan perasaanku aku saat itu. 
 Hingga akhirnya aku tak kuasa untuk mengataknnya pada Anisa, gadis yang saat itu menjadi kekasih ranking satu buat aku. Aku tidak tau harus bagaimana untuk mengatakan kepadanya. Tapi ini sebuah keharusan untuk ku ungkap kepadanya. 
Aku memang sangat aneh saat itu,,, sangat dan sangat aneh. Padahala tak sedikitpun Anisa berbuat salah kepadaku kala itu. Mana mungkin ia akan merelakan semua itu berakhir semudah demikian itu?. Dia tak mungkin rela. Aku mengenal betul akan diri dan hati Anisa. Dia seorang gadis yang tak mudah jatuh hati. Dan aku bersyukur telah menjadi bagian dari hari-harinya kemarin. Namun aku seolah tak melihat setiap hembusan ketulusan dari cinta Anisa kepadaku.
Namun harus ku akui bahwa sangat bahagia selama  bersamanya menyulam benang-benang cinta untuk sebagai selimut hati di setiap hari-hari bersamanya. Menyulap setiap kesedihan menjadi ceria dan senyum di wajahnya. Aku dapat merasakan setiap keindahan cinta Anisa kepadaku. Disuatu hari kemarin saat aku sakit, tak ada ada seorang pun yang memberiku perhatian setulus siraman embun di kala pagi hari. Hanya dia yang datang membawa seuntai senyuman manis penghibur dan juga obat penawar disetiap rasa sakitku. Karena aku jauh dari lingkungan keluargaku. Dialah seorang yang rela dan setia merawatku layaknya seorang perawat terhadap pasiennya. Dan aku lah yang pasien cintanya yang begitu tulus itu kepadaku.
Anisa sangat sering memperhatikanku hingga pada hal-hal atau kegiatan pribadiku. Seperti makan, mandi, dan berpakaian. Ia mengingatkan aku agar tak lupa makan, membenarkanku jika berpakaian kurang rapi dan selalu menyuruhku untuk tidak malas mandi. Lucu juga bila diingat-ingat terus. Ya,,, aku memang kadang merasa seperti seorang bayi karna perhatian dan kehadiran Anisa menemaniku disetiap detik yang tak pernah ku lupa mensyukurinya karna punya kekasih sebaik dirinya.
Bukan itu saja, aku juga terkadang merasa menjadi orang terkaya di dunia karna memiliki hati dan cintanya. Ada kalanya Anisa tak ada di sampingku sampai beberapa minggu. Maklumlah, dia juga punya aktivitas kuliah yang tak kalah pentingnya dari pada hanya mengurus aku yang hanyalah sesuatu yang ke-100 baginya. Kuliah dan  ibadah adalah nomor satu baginya.
Disaat-saat seperti itulah, aku kerap kali merasakan rindu kepadanya bila dalam beberapa hari tak bertemu dengannya. Karna aku juga manusia. Namun ada hal yang sangat berarti bagiku karna merasakan pukulan rindu karenanya. Hal yang berarti itu adalah disaat dia tiba-tiba datang dengan senyuman merona di wajahnya yang putih itu. Disaat dia tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan aku, dan dengan kedua tangannya di tutupnya mataku. Dan meminta untuk ditebak siapakah yang tengah menutup mataku saat itu. Emhh,,, dasar Anisa, dia bisa saja membuatku kian bertambah cinta kepadanya. Lalu ku pikir-pikir lagi. Dan ternyata dia juga sangatlah romantis. Aku pernah sekali membiarkannya merayuku. Dan dari situ lah aku bisa mendengarkan satu kalimat panjang yang juga sangat aku  suka mendengarnya. “Tidak ada yang mampu membuat hati ini tersentuh, kecuali dirimu sayang, karena kamulah lelaki terbaik dalam hidupku”. 

Huhh,,,!!!.
Sungguh manis bukan? Itulah Anisa. Gadis remaja masjid yang saat pertama kali aku bertemu dengannya tak pernah berani melihat kearahku. Bukan karena dia tak punya nyali untuk mengintip cintaku lewat jendela hatiku, untuk menatap mataku. Akan tetapi dia melihat cintaku dengan mata hatinya yang tak pernah ku tau dimana letaknya yang pasti. Tundukan kepalanya itulah yang berbisik ketelingaku bahwa saat itu dia menjaga keteguhan Imannya. Jujur, aku sekali pernah memberinya pertanyaan iseng dan sangat konyol. Isi pertanyaanku seperti ini. “ menurutmu aku tampan atau tidak Nis”?. Aku sendiri heran dengan jawabannya. Lewat akun Emailnya dia mengirimiku sepotong surat yang ada dalam Alkitab Al-Qur’an. Yaitu sebuah surat yang menceritakan tentang ketampanan nabi Yusuf A.S. yang intinya adalah bahwa rupa manusia biasa dengan ketampanan Nabi Yusuf A.S hanya lah perbandingan sebutir pasir dengan gunung Himalaya. Jadi tak pantas dipertanyakan ketampanan itu. Jujur aku merasa malu dengannya. Tapi itulah Anisa yang aku kenal. Tidak tau kalau dengan Anisa-Anisa yang lain. Anisa memang sesuatu yang sangat berharga yang pernah ku miliki. Dengan Anisa aku bisa menembus alam yang penuh dengan pesona Islami tanpa harus membayar mahal ataupun dengan mengendarai sedan model terbaru menuju jazirah Arab yang lebih populer dengan pesona Islam. 
Namun aku juga sepenuhnya menyadari bahwa Anisa juga tetap sama dengan manusia lainnya. Walau menurutku dia adalah wanita terbaik dari semua wanita yang pernah ku kenali. Buktinya aku masih saja dibuatnya merasai bagaimana rasanya di cincang cemburu. Walau terkadang yang kurasakan adalah cemburu buta. Ya that’s right. Nothing love without jealous.
Lalu apa sih sebenarnya yang membuatku tiba-tiba ingin untuk tak lagi mencinta dan dicintai olehnya?. Bukankah sangat aneh jika melihat betapa besar dan tulusnya cinta Anisa untukku?. Dasar bego’ aku ini. Mungkin itulah kata dan umpatan yang pas buat aku. Kusadari itulah kebodohanku kala itu. Aku menjadi manusia teraneh, namun sayangnya tidak masuk dalam kategori rekor dunia.
Aku memang egois saat itu. Aku memang bodoh dan tak punya hati  dan perasaan. Aku tega menjadi parasit dihati Anisa yang sesungguhnya masih perawan akan luka hati. Dan bukankah ini adalah akan menjadi luka hati yang cukup-cukup perih bagi seorang Anisa?. Jika aku sampai mengabulkan keegoisanku ini, maka sesungguhnya aku lah penyiksa hati yang paling menyakitkan bagi Anisa. Bagaimana tidak sakit, jika ku menggali lubang derita dan penuh siksa untuk Anisa. Lalu ku biarkan ia terjatuh kedalamnya, membiarkannya terisak dalam piluhnya yang tak hentinya memeras tetes demi tetes pada air mata yang sesungguhnya bisa menenggelamkannya dalam linangan dan luapan sang air mata. Sungguh biadab aku ini, egois dan tak berperasaan.
Saat itu, sebenarnya aku jugamasih belum terlalu yakin untuk bisa hidup tanpa ada cinta dihatiku. Tapi kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa cinta di hatiku kini benar-benar telah lenyap di sanubariku. Seakan-akan ada yang menelannya. Dan sepertinya aku memang harus memilih jalan sendiri. Dan harus meninggalkan Anisa saat itu juga. Bukannya Anisa bisa lebih sakit lagi jika ku paksaakan hatiku menjalani hubungan tanpa cintaku kepadanya?. Dengan perasaan yang sangat berat, aku memutuskan untuk melepaskan simpul cintaku yang masih begitu erat mengenggam jemari Anisa. 
Dan benar saja, Anisa dengan perasaan sangat heran dan tak percaya bahwa cintaku telah hilang di sanubariku ini.
“bukannya aku membencimu hingga aku melakukan ini padamu. Kamu adalah kekasih terbaik yang pernah aku miliki. Namun cinta di dalam hatiku tiba-tiba saja seperti ada yang menariknya dan melenyapkannya dari hati ini. Aku juga merasa aneh dengan pikiran aku sendiri. Aku yakin ini adalah hidayah dari-Nya yang paling aneh di dalam hidupku. Ku harap kau mengerti dan merelakan aku untuk pergi” ungkapku pada Anisa.
“dan satu lagi Nis, aku sangat bahagia menjalali waktu bersamamu” imbuhku.
Seakan tak percaya dengan kata-kata itu. Anisa lalu menubruk tubuhku, aku didekap olehnya. Kubalas dekapannya.
“kurasakan kau masih yang dulu, tak ada yang berubah dari hangat pelukmu ditubuhku Syarif.” kata Anisa.
Lalu ku lepaskan dekapan itu, kutatap mata beningnya. Kutangkap raut sedih di upuk matanya. Lalu perlahan demi perlahan kakiku melangkah meninggalkan pelabuhan yang sunyi itu. Dan isak tangis yang mulai melengking melemahkan jantungku mengiringi derap langkah kakiku. Kutinggalkan seorang kekasih sendiri diatas sepinya pelabuhan senja itu. Dan tinggallah ia sendiri terbawa oleh isak tangisnya yang masih terdengar oleh nuraniku. Dari jauh mataku masih menangkap dirinya yang tengah memeluk tubuh piluhnya. “Maafkan aku Anisa”.
“Maafkan aku untuk tiga bulan yang lalu”.
Dan hingga hari ini, aku baru mengerti bahwa Anisa telah tiada. Dia telah pergi untuk selamanya. Semoga saja dia masih mengingat janjiku padanya. Dulu aku berjanji akan menunggu manis cintanya di alam keabadian sana. Namun pada hari ini, dia telah lebih dahulu meninggalkan aku dan semua cerita piluh yang pernah kutuliskan untuknya. Namun engkau selalu menjadi pelangi pertama yang pernah mewarnai dan memberi kemilau di ruang hatiku yang kejam ini. Kau harus tau, bahwa selalu ada namamu disalah satu bagian sisi hatiku yang mulai melebur ini. Tertulis indah dengan tinta cintaku yang suci untukmu, walau sebenarnya cinta itu telah lenyap dari hatiku ini.
Selamat jalan anugerah terindahku. Semoga engkau disana bahagia ditemani oleh bidadari yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menemanimu. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Insya Allah kita akan dipertemukan disuatu tempat yang begitu indah dan megah. Tempat dimana bunga cinta bermekaran sepanjang musim yang tak pernah berganti dan tak pernah layu.
Tunggu aku kasih,,,!!!
               Ketika setitik air hujan menitikkan dirinya pada permukaan tanah, seketika itu ku dapati pula sekelumit pola wajah yang tengah tersenyum manis dan tak asing tak jauh dari arah depanku. Saat itulah aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku.

      Selesai, Malang, 3 Februari 2013, jam 03.22 WIB



0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.