Sunday, 16 December 2012

Titipan Cinta



Pagi-pagi itu, dia sudah menyambutku dengan secangkir kopi hangat buatannya, sembari tersenyum manis kepadaku. Dia memandangku dengan penuh kasih, dan aku pun demikian. Sepasang mata bening yang sudah tak begitu asing lagi ku melihatnya. Dia nampak tersipu. Perasaan yang demikian ini hampir tak pernah lagi aku rasakan akhir-akhir ini, sejak aku pertama kali bertemu dengannya enam tahun yang silam.
            Yang jelas, ini bukanlah yang dinamakan love it the first sight. Karena sebelum menikah dengannya, aku sudah mencintainya, tanpa perasaan ragu sedikitpun. Akan tetapi tak diijinkan untuk memiliki hatinya saat itu. Maklumlah, anaknya anti-pacaran. Untunglah dia termasuk tipe saya.
            Awalnya dahulu, aku dan dia sama-sama mahasiswa di Institut Teknologi Bandung, dan kebetulan satu kelas sama dia. Disalah satu kegiatan belajar kelompok dikelas, aku gabung di kelompok yang sama dengannya. Dan ternyata, eh, dia anaknya pintar dan cerdas. Terus di lain waktu, dengan tak disengaja, aku bertemu dengannya lagi di Masjid Agung yang ada dikota Bandung itu. Dalam benakku, mengatakan ternyata dia juga rajin beribadah. Dengan penampilannya yang tertutup mulai dari kepala sampai betis, sudah kelihatan kalau dia orangnya alim. Tapi,,, ah, harus kuakui kalau aku lalu mulai memperhatikannya. Ya paling tidak, aku tahu seperti apa lagi sih gadis yang aku kenal kali ini. Ya, seorang gadis innocent, agak kurus dan Islami bangat. Namanya Sarah Az-Zahra. Sebuah nama yang mengingatkanku kepada salah seorang perempuan yang menjadi istri nabi Ibrahim A.S.
            Aku memang mulai aneh saat itu. Pada suatu sisi aku ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang dia. Padahal dia bukanlah bahan untuk penelitianku. Ada-ada saja aku ini. Tapi pada saat itulah aku menyadari bahwa dia memiliki karakter yang sulit kutemukan pada wanita lain: dia jujur dan tetap pada pendirian!
            Dia tak pernah membiarkan aku mengharapkannya terlampau jauh, meskipun aku pernah mengucapkan kata cinta kepadanya. Kata-katanya padaku membesarkan hatiku, meski isinya hanyalah penolakan yang sangat sopan sekali.
            Aku tergumam dalam hati “hmmmm!”. Aku mulai membiarkan diriku tergiring olehnya pada obrolan-obrolan tentang lingkup dan kegiatan-kegiatan keagamaan. Dan aku menemukan sesuatu yang lain padanya: dia tidak pula kuper.
            Mungkin pada saat itu seleraku sedang berubah. Di waktu masih SMA dulu, pacar-pacar “monyet”-ku cantik-cantik. Ada yang jago Voly, jago nyanyi, Bintang kelas dan anak kepala sekolah...
Tapi yang ini bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Kalau bodinya yang kan kunilai secara obyektif, aku rasa lebih dari standar atau paling tidak lima setengahlah. Tak terlalu bagus untuk di pajang, tapi juga tidak malu-maluin. Ya mungkin aku sudah dewasa, hingga aku tidak tertarik kepada seseorang dengan melihat fisiknya, tapi hati dan sifatnya.
Waktu serasa begitu cepatnya. Tak terasa hari itu adalah tepat satu tahun aku menikah dengannya. Walau terkesan mengada-ada, tapi harus ku catatkan kalau tanggal 11 Desember adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Dan aku seharusnya berterima kasih kepada kedua orang tuaku yang telah memberiku do’a dan restunya untuk pernikahanku, meski tak bisa menghadiri acara tersebut, tak lupa pula kepada bapak lurahku semasa di Bandung yang telah bersedia menjadi wali untuk pernikahanku .
            Pagi itu pula, kupandangi senyuman manisnya yang merekah di hadapanku. Agak legah juga rasanya, di bawah depan pandangan matanya yang sayuh. Tidak seperti dulu yang selalu menundukkan wajah saat bertemu denganku. Mungkin karena saat itu muka saya masih setebal kampus di ITB dulu. Terbayang kembali saat-saat indah kemarin, ada awal-awal pertemuan dan saat-saat di hadapan penghulu. Memang tahun pertama kenalan bisa di katakan kami lalui dengan biasa-biasa saja.
            “sudah donk! Jangan di ingat-ingat lagi, lagian aku udah lupa kok.”
Suaranya membuatku kaget dan membuyarkan lamunanku. Ternyata dia juga membaca pikiranku dengan melihat wajahku yang kelihatan seperti mengingat-ingat sesuatu.
            “jangan lupa anterin aku ke klinik untuk periksa kandunganku siang nanti” imbuhnya
            “Insya Allah istriku” lirihku.
Kulihat raut mukanya yang seperti geli mendengar ucapanku. Spontan jubitan lembutnya mendarat di punggungku. Senyumannya pun kian mengisi semangat pagi itu.
^^^^^^^
            “Saudara bapak Syafid, saya ucapkan selamat. Istri anda positif hamil dengan usia kandungannya yang menginjak dua bulan. Sekali lagi selamat.”
Suara dokter itu serasa mengelus-elus kepalaku, bagai elusan seorang ibu kepada putranya. Ku temui Sarah di ruang periksa, dan ku sampaikan kabar gembira itu. Sujud syukurpun terlaksana seketika diruangan itu. Setitik air mata menetes tepat di sudut mata bidadariku itu. Hari-hari pun kian indah seiring tumbuhnya sang buah hati. Tak ada kebahagiaan yang sungguh dan sungguh indah selain kebahagiaan yang tengah menjadi atmosfer diruang keluargaku saat itu. Istri yang solehah dengan segala kecantikan dan kebaikannya. Tiba-tiba aku merasa tak ingin cepat-cepat meninggalkan dunia yang fana ini. Semua itu karena hadirnya permata nan elok ini dalam hidupku ya Rabbi.
            Suatu malam sepulang dari kerja, aku baru kali itu mendapati istriku yang aku sangat cintai itu tengah menyediakan makan malam untukku. Dengan tidak di persilahkan terlebih dahulu, aku langsung duduk dan mencicipi sesendok sayur bening kesukaanku buatan bidadariku malam itu.
Mmmmhhhh,,!!!
Spontan mataku melotot dan tersentak.
“kenapa mas? Sayurnya keasinan ya?” tanyanya
Aku tak mungkin berkata jujur untuk kali ini, tak ingin aku meenyakiti atau pun menyinggung perasaannya. Dan ini bukanlah suatu perbuatan dosa untuk bohong yang seperti ini.
“ mmh,, nggak ko, sayang. Sayurnya enak kok, hanya saja aku udah di traktir makan sama bos tadi di pabrik” jawabku disertai senyuman untuk pemanis maksud.
Cepat-cepat ku alihkan pembicaraan, biar tidak menanyaiku dengan beberapa pertanyaan lagi.
“gimana si ade, udah di kasih makan malamnya belum?” tanyaku
Sesaat dia natapku dalam-dalam.
“udah kok pa,” jawabnya seraya menghampiriku dan berdiri di belakang kursi tempat aku duduk dan membelai-belai rambutku.
“syukurlah, jangan sampai lupa untuk kesehatan itu dijaga”tambahku
Kurasakan betapa tulus cinta dan kasihnya untukku. Hingga menyadarkanku, apakah dia juga merasakan besarnya cintaku padanya? Atau kah dia malah merasa menderita hidup bersamaku dalam segala kesederhanaan ini. Tapi Sarah bukanlah perempuan yang melihat sesuatu dari materi. Aku cukup mengenalnya sebelum aku meminangnya dulu. Bahkan dia menyukai kesederhanaan. Sejenak ruang itu di penuhi keheningan.
            Pukul 20.43 malam itu, kulihat Sarah melangkah kearah kamar kecil dengan cukup tergesah-gesah. Aku hanya bisa memperhatikannya saat itu tanpa aku ingin tau apa yang terjadi dengannya, aku masih tetap menatap layar televisi berukuran 29 inch itu, dengan pertandingan sepak bola Indonesian super league antara Sriwijaya Fc kontra Persija Jakarta yang saat itu masih diperkuat oleh sang kapten Bambang Pamungkas yang juga adalah striker andalan timnas Indonesia saat itu juga.
            Agak lama juga rasa Sarah tak keluar dari sana. Aku pun mulai curiga dengannya, entah kenapa aku mulai mengkhawatirkannya. Hingga aku tergerak untuk melihatnya. Aku mengetuk daun pintu kamar mandi itu,
“sayang! Ngapain sih didalam kok lama?” tanyaku
Tak jawaban sesaat itu. Tiba-tiba pintu terbuka, dengan senyuman manisnya dia menghipnotis aku,
“abis, aku ditinggalin sendiri nonton tivi” jawabnya setengah manja
Jawabannya itu sangat membuatku geli mendengarnya, dan tiba-tiba saja aku memeluknya dengan erat dan menggendongnya, dia pun merontah dengan manjanya. Tapi aku terus saja menggendongnya sambil melangkah kearah kamar. Setelah melepaskannya, dia dengan beraninya mulai melingkarkan pelukannya pada leherku sambil menatapku dengan penuh cinta. Dan akhirnya kami pun beribadah bersama karena ALLAH semata. Inilah hadiah dari-NYA untuk kita yang benar-benar berada dijalannya. Dan aku sangat bersyukur telah memiliki istri sebaik dan solehah seperti Sarah. Seakan aku tak ingin berpisah dengannya, dan tetap ingin bersamanya selama mungkin di dunia ini, dan semoga Allah menyatukan kami kembali di akhirat nanti sebagai sepasang yang saling berkasih-kasih lagi menyayangi. Bukan malah menjadi saling membenci dan memfitnah.
Benar kata-kata Mario Teguh, bahwa:
Kita harus bersedia hidup kurang dari kesempurnaan yang kita harapkan, untuk mengijinkan kekasih kita tumbuh menjadi penyempurna kehidupan kita.


 
Dan seperti itulah yang telah aku temui pada cintanya Sarah kepadaku. Dia memang istri yang unik dan terbaik yang aku telah aku dapatkan.
            Pagi-pagi sekali, aku melihat Sarah melangkah dari dalam kamar mandi, dengan tampak lesu. “ada apa dengan istriku ini”umpatku dalam hati. Apakah dia sakit, atau apa? Tapi kenapa dia harus merahasiakan padaku jika benar dia sakit. Dan beberapa saat kemudian, terlihat lagi Sarah menuju toilet.
“sayang,,! Apa kamu sedang sakit?” tanyaku
“nggak, cuman gejala masuk angin aja” jawabnya
Dan kurasa itu jawaban yang bisa diterima.
^^^^^^^^^
            Siang itu, aku sedang mengantarkan Sarah istriku untuk mengecek kandungan untuk ke-tiga kalinya. Dan tak seperti biasanya, ibu dokter yang memeriksanya memanggilku keruangannya.
“ saudara bapak Syafid, apakah istri saudara pernah kau bawah keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan?” pertanyaan yang aneh menurutku
“tidak dok, Sarah orangnya betah dirumah. Dia lebih sering menghabiskan waktunya dirumah dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk mengisi pita rekaman bayi yang di kandungnya” jawabku
“dengan sangat menyesal saya katakan kepada bapak, bahwa istri saudara tengah mengalami gejala-gejala headstroke.”
“apa dok? Itu gak mungkin, lagian udara dan cuaca belakangan ini tidak begitu terlalu panas, lalu apa penyebabnya?”
“apakah anda pernah menjumpai istri bapak dalam keadaan sering mual-mual diusia kandungannya yang udah menginjak enam bulan ini?”
“tidak pernah dok” sedikit-sedikit aku mengingat hari-hari belakangan ini, kok Sarah sering keluar masuk Toilet. Apakah itu gejalanya, dan menyembunyikannya dariku. Oh,, Sarah istriku,,! Aku ini adalah dirimu, janganlah kau menyembunyikan sesuatu dariku, biar aku memahamimu lebih dari ini. Kau adalah kehormatanku yang kan selalu aku jaga kesucian dan keabadiannya. Kutinggalkan ruangdokter itu dengan jantungku berdetak tak karuan, emosi bercampur kecewa. Sarah istriku telah menyembunyikan deritanya terhadapku. Aku tak ingin berdosa kepadanya ya Allah. Dengan tidak memberinya perhatianku. Hanya dialah yang pantas untuk aku anugerahi perhatian dan segenap cinta kasihku ini.
            Malam itu, Sarah tertidur lebih dulu. Sementara aku masih saja terjaga dan gelisah mengatahui keadaan bidadariku dalam ancaman maut yang bisa memisahkanku dengannya, dan disisi lain aku belum siap kehilangan beningnya tatapan matanya dikala pagi. Bak Embun yang menyirami bumi dikala waktu duha. Ya Allah, janganlah kau biarkan aku mendapatkan cinta kasih dari orang lain selain cinta yang sungguh indah ini dari Sarah, istriku tercinta. Kuingin hanya darinya aku mendapatkan cinta sesuci ini dan cinta suciku hanyalah untuknya semata. Dalam kegelisahanku, tiba-tiba sebutir obat berwarna merah tertangkap oleh titik fokus retinaku. Keraih butiran itu. Istriku benar-benar menyembunyikan penyakitnya terhadapku. Kenapa dan ada apa denganku hingga dia tidak jujur padaku? Apakah karena aku hanyalah lelaki miskin yang tak punya penghasilan yang cukup untuk membiayai perawatan untuk penyakitnya itu? Kutau itu adalah benar. Tapi aku akan berusaha dengan segenap jiwa dan ragaku untuk memberikannya demi kesembuhannya sebagai bukti dan bakti cintaku yang tulus lagi suci untuknya. Apalah gunanya rumah yang mewah dan bertingkat, mobil yang mengkilat kalau didalamnya bak kiamat(KH.Zaenuddin Mz). Begitu pula antara aku dan Sarah istriku yang setiap saat ku cintai lantaran kebesaran Allah.


Dua setengah bulan telah berlalu.
Usia kandungan Sarah Semakin tua, dan darah yang membeku dibagian bawah otak kecilnya semakin hari semakin menjadi-jadi. Dan tentu saja aku semakin mengkhawatirkannya dan juga anak dalam kandungannya. Tak ada yang aku harapkan saat itu selain pertolongan dari yang Maha Kuasa. Tiap tengah malam aku berdo’a dan memohon keselamatan untuk dua jiwa yang masih bersatu dalam satu raga. Sementara pekerjaan ku yang bisa dibilang cukup banyak tak pernah kubiarkan lewat bersama waktu. Dan pastinya waktu saya untuk bersama sarah semakin sempit saja. Terkadang aku merasa kesal dengan hidup yang seperti ini.

            Malam itu malam Sabtu, tanggal 5 memasuki bulan Mei ditahun 2012.
Aku dan Sarah sedang duduk di ruang tamu, udara diluar rumah tampak dingin sekali. Dengan manja Sarah memeluk tubuhku yang agak kurus.
“tak terasa ya, kita udah hampir dua tahun menikah, dan sebentar lagi buah hati ini akan lahir kedunia yang akan ku tinggalkan ini”. Lirihnya
Aku terkaget dan tertegun menatapnya. “ kamu ngomong apa sih barusan sayang, nggak baik loh ngomong kayak tadi, aku itu nggak mau jika ditinggal sendirian didunia ini, karena dunia tidak akan terasa seindah hari kemarin dan juga hari ini kecuali ada kamu disetiap nafasku”. Pungkasku
“gombal banget seh! Kamu tau, kalau aku tidak suka dipuji apalagi digombal oleh siapapun sejak masih sekolah dulu?” tanyanya lagi dengan nada yang agak berbeda
“ aku tau itu, kamu takutkan kalau jadi besar kepala, angkuh dan juga sombong” jawabku setengah bertanya
“ iya sayang,! Oya  kalau anak kita nanti lahirnya perempuan mau dikasih nama siapa?” tanyanya
“emh,, siapa ya? Kalau sayang mau nama siapa?”
“ NURUL AINUN” pungkasnya dengan girang
“ nama yang sangat bagus sayang,, ternyata kamu masih sepintar dan sebijak dulu. Kenapa kamu memilih nama itu?” tanyaku
“ karena aku ingin dia menjadi sosok yang mampu menggantikan aku” jawabnya
Aku nampak kaget lagi atas jawaban yang dilontarkan olehnya
“tentu saja sayang, dia akan mewarisi semua sifatmu, sifat ibunya. Cantik, baik, solehah, pintar, dan yang paling penting adalah kamu adalah istri yang paling mulia yang sempat kumiliki dalam kehidupan ini.” Imbuhku

            Malam semakin menggiring kamu kealam lelap, dan kulihat Sarah pulas dalam dekapanku saat itu. Aku merebahkannya ditempat tidur dan menutupi badannya dengan selimut. Sesaat aku akan melangkah meninggalkannya, sentuhan tangan dingin tepat mengenggam erat tangan kananku, seraya dikecupnya dengan penuh kehangatan. Rupahnya dia terbangun saat aku membopongnya ke dalam kamar.
“Assalamu Alaikum! Selamat tidur suamiku” senyum dan tatapannya yang bening kembali menghipnotisku
Sebelum ku jawab salamnya, kusempatkan mengecup keningnya dengan penuh takzim dan sayang. “ Wa,alaikum salam istriku”. Dan beberapa saat kemudian dirinya pun terbuai dalam mimpinya.
Malam terasa berat untuk berlalu. Gerak berputar bumi seakan tertahan oleh suatu kekuatan yang tak mungkin dimiliki oleh manusia biasa. Sampai dentangan detik jam kini melalui menit ke dua puluh tujuh di jam sebelas malam, aku tetap saja tidak bisa memejamkan mataku.
Kira-kira jam dua malam lewat, aku bangun. Aku tak tahu aku tidur dijam berapa dan berapa lama aku tertidur. Aku pun melaksanakan sholat malam untuk kembali bersujud dan memohon kepada Allah, untuk keselamatan Sarah dan anak yang ada dalam kandungannya, dan lebih-lebih lagi untuk kesejahteraan rumah tangga yang kami bina bersama. Dalam do’a ku kuserukan permohonanku disertai tangis ku. Seperti anak yang tengah mengiba-iba kepada ibunya. Selesai melaksanakan sholat, aku menyempatkan diri untuk menengok Sarah dikamar. Kuciumi ubun-ubunnya dengan penuh cinta. Dan rasanya dia tak tertidur saat itu. Tapi aku tidak mau mengganggunya.
            Diatas meja kulihat sebuah bingkai poto berukuran lumayan besar terpajang. Ya itu memang poto pernikahanku dengan Sarah, yang sempat terabadikan.
^^^^^^^^

            Dan hari itu adalah hari Minggu, tanggal 6 Mei. Sampai jam segini Sarah belum juga keluar dari kamar. Mungkin saja dia masih terlelap? Tapi ini tidak biasanya dia lakukan. Ketika aku masuk kamar, dan,,,,,Masya Allah..!!!
Sarah saat itu tak sadarkan diri. Darah membasahi tubuhnya bagian bawah. Ccepat-cepat aku bawa ke Klinik Cempaka Putih, klinik yang biasa dia periksa kandungannya selama ini. Petugas-petugas diklinik itu nampak mulai sibuk dengan kadatanganku baru saja. Ada yang berlari-lari. Sementara itu, aku masih diluar menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Jam 11.06, sayup-sayup aku mendengar suara tangisan bayi yang baru lahir. Dan itu terdengar dari ruang tempat Sarah di periksa barusan. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu dokter keluar dari ruangan itu. Aku menunggu, hingga dua puluh menit lebih. Kulihat dokter Nisa keluar dengan wajah yang biasa saja.
“selamat pak Syafid, putri anda lahir dengan selamat. Namun bapak harus  bersabar hingga saat ini, karena istri bapak masih harus kami operasi karena penyakit dikepalanya.”
Bahagia dan haru serta sedih.
Bahagia mendengar putriku selamat, dan sedih mendengar bidadariku hampir dan sangat kecil kemungkinannya bisa tertolong. Tak hentinya aku memohon kepada Allah dalam hati. Selamattkanlah dia ya Allah. Biarkan dia hidup untuk melengkapi kebahagiaan ini.
Setelah beberapa saat, dua orang dengan berpakaian putih-putih datang menghampiriku.
“kami mengucapkan maaf yang sangat teramat kepada saudara Syafid. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Allah berkehendak lain, istri bapak telah meninggalkan kita semua sejak lima menit setelah putrinya lahir.”
Matahari serasa membakar isi hatiku kala itu juga, hatiku seperti tergilas mobil teng yang biasa dipakai di perperangan. Pupus sudah kebahagiaan ini. Permata hatiku yang berkilauan emas kini kembali kepada sang Khaliknya. Zat yang paling Maha Kuasa. Meninggalkan sejuta kenangan yang tak sempat aku ceritakan kepadanya. Terkadang Hidup terasa kurang adil. Tapi aku bukanlah sang penghianat, yang akan melawan titian kodrat ini. Air mataku kian bertambah deras saat ku tatap wajah pualam itu yang pucat dan kaku terbungkus kain putih. Ya Allah,,, terimalah dia disisimu dengan posisi yang paling istimewa, seperti aku mengabadikannya di ruang hatiku yang paling istimewa, ruang hatiku yang belum pernah disentuh oleh cinta sebelum cinta kasihnya yang suci lagi mulia. 

  Aku masih saja tak bisa menahan tangisku, yang terseduh-seduh.
“ikhlaskanlah kepergiannya nak, biar dia tenang dialam sana” ibuku yang sudah tua turut ikut diacara pemakaman Sarah, seorang istri yang tak akan pernah ku temui di belahan bumi mana pun juga, selain dibumi yang kupijaki bersamanya kemarin.


4 mei 2012
Suamiku,,,,!!!!
Harus kuakui bahwa engkaulah pria terbaik yang telah kumiliki. Belum pernah aku melihat seorang suami yang seebaik kamu. Disaaat aku melakukan kesalahan padamu, ku tau kau selalu menyembunyikan kekesalanmu padaku, karena kau tak ingin menyakiti perasaanku.
Aku juga tau dan bahkan melihatmu. Kau slalu mendo’akan aku setiap sepertiga malam di sholat malam mu itu. Kau takut kehilangan aku, bukan? He.. he...Tapi engkau belum sadar sesuatu, bahwa didunia ini kini, hanya mampir sebentar.
Suamiku...!!!
Ingatlah, bahwa ada tempat yang paling indah untuk kita bercinta lagi. Dan jika Allah mengijinkan, kuingin menjadi pendampingmu lagi di sana kelak.
Suamiku....!!!!
Aku minta maaf, jika aku pernah khilaf kepadamu. Akhirnya aku sadar satu hal, bahwa tak mudah untuk mengimbangi kebaikanmu kepadaku selama ini. I love you,,,,,
                                                                                Sarah

          

 
Ketika sekelumit pola-pola wajah Sarah yang masih saja membayang dalam benakku, lalu lembar-lembar cerita indah yang kini telah tiada, Saat itulah seberkas mata bening membuyarkan lamunanku yang hampa.

Selesai
              Hari kamis oo.36, 7 Juni 2012.



0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.